Kalau Saya Layak Memperolehnya
Saat ini ada begitu banyak jenis produk dan varian makanan instant. Untuk mengkonsumsi si instant, saya cuma seduh mie dgn air panas atau dapat langsung cemplung oatmeal ke susu, dsb. Berapa lama ya, paling saya masak mie dengan microwife cuma 2 menit. Saya membeli kemudahan. Lama-lama saya terbiasa dengan kemudahan. Kalau bisa bikin mie goreng lalu nasi goreng tanpa menggoreng mengapa nggak dipakai cara ini?
Case 1. Waktu Reza Artamevia cerai dari Adjie Massaid, dia bilang, ada satu kesalahan besar saat dia menerima lamaran Adjie, yaitu bahwa dia, seorang yang percaya akan proses, terburu-buru untuk memutuskan menikah.
Case 2. Teman-teman fasilitator program pelatihan selalu meminta peserta untuk mengikuti keseluruhan acara, dari awal sampai akhir.
OK, mengapa ikut proses itu penting?
Suatu ketika, seorang sedulur (sanak saudara) bertanya di mana saya kerja. Lalu dia tanya lagi ‘ada siapa orang dalamnya?’ Saya bilang nggak ada orang dalam, saya masuk lewat test, ‘Ooh‘, beliau malah menatap saya dengan tatapan anehnya. Mungkin dia pikir saya alien. Kenapa kenapa ada orang cari yang susah?
Saya pikir emang nggak ada salahnya saya menikmati mie instant setelah pencet2 microwive dan nunggu 2 menit, saya kenyang hampir tiap pagi (supaya ngirit). Mudah. Tapi untuk sesuatu yang bernilai untuk jangka panjang, apakah dengan cara instant kita layak juga mendapatkannya?
Pernah ada mahasiswa dari luar PT tempat dosen saya juga mengajar menelpon saya khusus untuk merayu agar saya mendiktekan soal sebelum hari H ujian. Saya bilang, ‘Mas kalau begini caranya, untuk apa Mas bayar kuliah mahal-mahal kalau nantinya Mas sendiri malah yg rugi, nggak dapat apa-apa.’. ‘Yang penting kan nilai saya bagus, Mbak" Aduh mosok dia ini nggak ngerti: nilai bagus itu akan lebih bernilai jika ia melalui proses belajar, kan dan pasti you deserve it. Kalau ketikan di ijazah AAA tapi lo tetap oon, kasihan deh lo..