Archive for August, 2005

Don’t Grab My Money!

Monday, August 29th, 2005

VerbodenYang Kemarin Gue Belum Bayar!
Waktu Iril, tukang koran/majalah langganan orang2 kantor mendatangi meja kerjaku, asli, nggak bisa deh gw nahan tawa. Karena pasalnya, dia selalu mengkondisikan supaya gw beli majalahnya. Modusnya: ditaruhnya majalah wanita di depanku, nggak peduli gw lagi pegang dokumen apa, jadinya tertariklah mata yg suntuk ini sama gambar2 di majalah yg penuh dengan pernak-pernik wanita: fashion, resep, tips2, dll.   Metode ini dia pake pada setiap staf di kantorku. Cengirannya menjamin kita untuk jadi budak hutang, "Bayar besok nggak papa-lah" tapi besoknya dia datang lagi dengan dagangannya lain. "Iril , yang kemarin gue belum bayar!’, katanya resepsionis  di lantai 1 yg panik  lantaran takut ngutang lagi… Hari ini gw beli juga soalnya ada artikel "Wanita Rentan Kena Ambeien".

Korban Iklan
"Mbak, udah coba sabun yg di TV itu nggak?" kata roomate ku. "Belum, kenapa?", gw menduga dia pasti jadi korban iklan. "Iiiih, jangan deh Mbak, mukaku jadi jerawatan." Dalam hati aku geli, kok tiap hari  lihat iklan yg sama tapi nggak  ngerti kalau  sabun itu nggak cocok buat muka berminyak ya.    

Takut Sakit Hati
Gw kadang takut mengubah cengiran Iril jadi tampang bete. Tapi kadang aku juga mesti bisa mengendalikan diri, karena dibeli sekali dia terus datang-datang lagi, jadi tumanan… Tapi setuju kan kalau banyaknya barang yg dibeli seseorang mencerminkan kesenangan pemiliknya?! Roomate ku punya 2 lemari untuk nyimpan bajunya. Kalo aku punya dua lemari untuk nyimpan bukuku. Kadang dia suka bingung dengan jumlah bajuku yg bisa dihitung dengan jari," Bajumu kok dikit banget sih". Dan waktu dia bilang," Mbak, majalah dan buku di atas mejamu dimasukin ke kardus aja ya," mungkin dia pikir buku2ku nggak sedap dipandang mata. "Nggak," gue jawab jelas2 dengan gelengan kepala, agak sakit hati, dikit. Dia memang sering beli baju, kalau aku buku. Tapi kalau ada pameran buku, kita sama-sama nggak pergi. Karena dia nggak kepengin beli buku, kalau gue takut sakit hati karena nggak bisa beli banyak buku.      

Jadi Ini Salah Gue?
Mungkin kalau Iril bisa baca blog ini, dia akan bilang, "Jadi ini salah gue? Semua salah gue?!" Intinya? Pengendalian Diri… (Itu lho seperti kata  Pak Zainuddin MZ)…

Amigos en El Senor

Sunday, August 28th, 2005

Dontworryiamtherena
Manusia memulai hidupnya di dunia dan berkenalan dengan sekitarnya. Dalam hidupnya ada perjumpaan dan perpisahan. Perpisahan itu akan jadi berarti bila meninggalkan kenangan tersendiri di hati orang yang mengalaminya.

Friends in the Lord
Arti ‘Amigos en El Senor’ adalah friends in the Lord, Teman-teman dalam Tuhan, sebuah inspirasi dari sejarah spiritualitas Ignasian. Mengapa harus ‘en El Senor’? Karena cuma ungkapan itu yang membuat ‘harta’  saya saat ini dalam kondisi ‘just fine’, mereka (teman-teman saya) ada dalam pagar ‘en El Senor’ yang ‘lintas batas’.   

Berpisah Sementara
Beberapa kali saya mengalami perpisahan dengan teman, sahabat dan saudara yang membawa kesedihan kadang sebentar atu membekas cukup lama. Mereka berpindah tempat tinggal, harus melanjutkan studi di tempat lain, atau meninggal: saya dengan mereka berpisah waktu, berpisah ruang dan juga berpisah alam. Setiap mengenang setiap teman, saya sekaligus mengenang keunikan tiap orang, tidak ada yang persis sama. Sayangnya, kadang saya pikir saya belum cukup mengenal ketika mereka harus pergi.    

Perlukah kita mengulang masa-masa yang menyenangkan dulu? (Seorang sobat masa kecil hanya tersenyum ketika saya memanggil dengan julukan khas: Bebek, Ember, Bun-bun) Kondisi dulu dan sekarang sudah jauh berbeda…

Saat ini saya nikmati masih bersama dengan sisa teman, dengan sisa waktu, dengan ‘batasan-batasan’ yang mungkin akan terjadi antara saya dan mereka, termasuk perubahan relasi yang mungkin terjadi di antara kami…

Cinderella Complex: Ketakutan Wanita Akan Kemandirian

Sunday, August 28th, 2005

Arsam270305
Menanti Pangeran
Nama lain "cinderella complex" adalah ketakutan wanita akan kemandirian. Istilah ini muncul dari buku Colette Dowling, yang diterjemahkan oleh Santi W. E Soekanto. Lengkapnya lagi, "cinderella complex" adalah kumpulan sikap dan tekanan rasa takut sehingga wanita tidak bisa dan tidak berani memanfaatkan sepenuhnya kemampuan otak dan kreatifitasnya. Seperti Cinderella yang menanti seorang pangeran menyelamatkannya dari kemalangan dan kejahatan Ibu dan Saudara Tiri. Nyatanya ada wanita masa kini yang masih menanti kekuatan dari luar untuk mengubah hidup mereka. Hal ini juga terjadi pada wanita yang sudah menikah yang takut sang "pangeran" yang jadi suaminya akan pergi saat ia "mandiri" dalam mengatasi persoalan rumah tangga. Apakah boleh jika wanita hanya mengeluh saja?

Gadis Kecil
Saat masih kecil, gadis kecil sungguh dijaga. Orang tua menanamkan bahwa sejauh yang berkaitan dengan pengambilan risiko dan penilaian tentang keselamatan mereka, seharusnya mereka tidak mempercayai dan mengandalkan diri sendiri. Saat mulai masa puber, perilaku baru dituntut oleh lingkungannya: menjadi partner heteroseksual: tidak baik terlalu bersaing dengan pria.

Gadis Remaja
Pada saat beranjak remaja, Krisis Feminitas (yaitu periode stres dan kekacauan, cemas akan kemampuan dan identitas diri-red) pada anak gadis muncul: suatu ketidakberwarnaan, ketidakberbentukan yang mencolok, ketiadaan definisi, kekaburan kepribadian, sengaja dicari si dara, sementara si jaka mengejar keterikatan dan tujuan yang jelas. Mereka harus mengkondisikan diri sedemikain rupa agar dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan pria yang menikahi mereka. Saat beranjak dewasa, ketakutan untuk mendefinisikan diri mulai dianggap orang sebagai hal yang neurotik.

Gadis Dewasa
Wanita muda yang sudah ingin menikah, umumnya mengubah total nilai-nilai mereka, menolak prestasi untuk sekuat tenaga mengejar penerimaan sosial. Otomatis, tugas mengembangkan ketrampilan berprestasi dan kemandirian pun terhenti.

Antara Dependen dan Independen
Di antara konflik ketergantungan dan ketidaktergantungan, di manakah keseimbangan antara keduanya? Seorang gadis yang manja, tidak punya opini, tanpa kepribadian, dianggap tikus dan tidak menarik. Tapi seorang gadis yang terlalu mandiri juga bukan piala yang ingin direbut.

Saya ingat cerita Ibu saya bahwa seorang Pak Guru saya berumur 40-an menolak dijodohkan oleh seorang teman Ibu yang sudah lama melajang pula hanya karena si Tante ini bisa naik genteng untuk membetulkan atap bocor sendiri! "Buat apa ada saya di dekatnya. Dia bisa kerjakan apa-apa sendiri." Akhirnya di sisi lain saya sedikit tahu bagaimana pria ingin memposisikan diri.

Begitu masyarakat membentuk mereka sampai pada jangka waktu yang lama wanita baru sadar akan ketidakberdayaannya. Padahal kita tahu, mempercayai dan mengandalkan diri sendiri adalah modal pengembangan kemandirian.

Saya sendiri kadang bangga akan kemandirian saya (berani pulang malem?!) tapi juga kadang menolak untuk mandiri terutama dalam hal finansial. Saya pikir kodratnya, baik seorang yg tradisional mau pun yang modern, seorang pria harusnya menafkahi istrinya, peduli gaji lebih besar atau lebih kecil. Kalau nggak gitu bagaimanakah pembagian peran yang jelas?  Karena seorang istri jaman sekarang juga harus bekerja untuk menambal kekurangan yg ada. 

Techno addicted

Friday, August 19th, 2005

Sekarang orang-orang kantor hampir hapal sama kebiasaanku ‘mojok’ sehabis pulang kantor… Apa lagi? Update my blog atau cek email… Tapi sedih ada web yg nggak bisa dibuka gratisan lagi. Trus jarang yg bela-belain ke warnet baca tulisanku…

Akhir-akhir ini saya pikir saya jadi agak techno adddicted (atau telekomunikasi addicted?) kalau jaringannya lagi lambreto: Perut mules, rambut kriting, mesti dibelain deh dateng malem2 jam 12 sampai dini hari, tapi sialnya banyak orang punya semangat yg sama…Untung insomnia jadinya nggak bete banget keluar malam. Padahal lagi butuh, urgent, mendesak…

Kalo udah gini mesti bela-belain lagi besoknya datang lagi… bhhh…

Andragogi Bukan Anda Grogi

Sunday, August 14th, 2005

Banyak orang tertarik akan teori bagaimana memimpin orang lain.Tapi untuk praktek memimpin diri sendiri? Salah satu kebebasan manusia yang paling tidak bisa dibatasi oleh manusia lainnya adalah berpikir. Seorang pesuruh pun masih bisa memimpin dirinya sendiri, sedikitnya untuk memilih apakah dia mau membuat kopi dengan sendok kecil atau besar, meskipun dia tidak punya kuasa apa2 lagi atas orang lain di tempat kerjanya.   

Beberapa waktu lalu saya observe kegiatan outbound untuk mahasiswa. Apa adanya, dengan kritis mereka menanggapi setiap dinamika kelompok yang ada. Dengan jujur mereka tampil apa adanya. Sebagai orang yang sudah dewasa mereka belajar mandiri (andragogi) menemukan hal-hal yang baru dari proses belajar bersama-sama: bekerja sama, lalu berefleksi, evaluasi lalu sepakat untuk memperbaiki.

Kadang Trial and Error, kadang mengulangi cara yang sama. Ada banyak cara untuk mengatasi persoalan, baik dalam kerja tim mau pun untuk diri sendiri…

Tapi ilustrasi how to behave dalam tim diberikan oleh seorang instruktur tentang apa yang terjadi dalam kelompoknya…

Seorang peserta yang over confidence, 3 kali sudah ia membalikkan kano yang ditumpangi bersama dengan temannya. Dia tidak dapat menerima saran orang lain, setidaknya untuk mengancingkan pelampung meski ia jago berenang, tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, sedikitnya untuk mendayung tanpa zig zag, hanya mempercayai kekuatan sendiri… Ini ‘anda grogi’…

Images2Satu kelompok lainnya belajar dari proses trial and error. Bagaimana menghindari error?  Apakah dengan cek dan ricek?  Apakah dengan meminimalisir resiko? Mereka belajar dari kesalahan, lalu jadi yang paling pertama mencapai finish… Ini andragogi…         

Terbang Ke Mana Saya Ingin Pergi

Friday, August 12th, 2005

Peter_panYang benar belum tentu populer sementara yang populer belum tentu benar…
Pepatah lama ini kadang saya yakini juga, bahwa sampai saat ini saya harus melalui proses-proses pembuktian diri… bahwa saya ingin melakukan sesuatu yang bernilai untuk jangka panjang: hal yang benar dan bukan sekedar karena ingin populer… Kadang saya merasa ingin terbang saja seperti Peter Pan, karena tiap saya jatuh atau berdiri tegak, tetap ada penonton yg bersorak…

Kadang orang tidak cukup berani untuk melakukan hal yang aneh-aneh, lebih merasa nyaman dengan hidup yang biasa atau ikut arus saja…Atau malas berpikir yang panjang-panjang…

Jika kita menemukan seorang friendster yang pemberani dan ia telah bekerja keras dan mencapai prestasi,  mengapa kita tidak berikan standing applause dan sesekali kita berperan sebagai penonton yg membayar tiket dan sementara berhenti sebagai pelaku. Bergembira bersama, bersedih bersama, menyemangati….  Sesudahnya, kita kembali ke hidup yang kita pilih…=) Seperti  seorang Peter Pan saya ingin terbang saja ke mana saya ingin  tuju… Peter_pan2_1

Kalau Saya Layak Memperolehnya

Sunday, August 7th, 2005

Saat ini ada begitu banyak jenis produk dan varian makanan instant. Untuk mengkonsumsi si instant, saya cuma seduh mie dgn air panas atau dapat langsung cemplung oatmeal ke susu, dsb. Berapa lama ya, paling saya masak mie dengan microwife cuma 2 menit. Saya membeli kemudahan. Lama-lama saya terbiasa dengan kemudahan. Kalau bisa bikin mie goreng lalu nasi goreng tanpa menggoreng mengapa nggak dipakai cara ini?

Case 1. Waktu Reza Artamevia cerai dari Adjie Massaid, dia bilang, ada satu kesalahan besar saat dia menerima lamaran Adjie, yaitu bahwa dia, seorang yang percaya akan proses,  terburu-buru untuk memutuskan menikah.

Case 2. Teman-teman fasilitator program pelatihan selalu meminta peserta untuk mengikuti keseluruhan acara, dari awal sampai akhir.

OK, mengapa ikut proses itu penting? 

Suatu ketika, seorang sedulur (sanak saudara) bertanya di mana saya kerja. Lalu dia tanya lagi ‘ada siapa orang dalamnya?’ Saya bilang nggak ada orang dalam, saya masuk lewat test, ‘Ooh‘, beliau malah menatap saya dengan tatapan anehnya.  Mungkin dia pikir saya alien. Kenapa kenapa ada orang cari yang susah?   

Saya pikir emang nggak ada salahnya saya menikmati mie instant setelah pencet2 microwive dan nunggu 2 menit, saya kenyang hampir tiap pagi (supaya ngirit). Mudah. Tapi untuk sesuatu yang bernilai untuk jangka panjang, apakah dengan cara instant kita layak juga mendapatkannya?

Pernah ada mahasiswa dari luar PT tempat dosen saya juga mengajar menelpon saya khusus untuk merayu agar saya mendiktekan soal sebelum hari H ujian. Saya bilang, ‘Mas kalau begini caranya, untuk apa Mas bayar kuliah mahal-mahal kalau nantinya Mas sendiri malah yg rugi, nggak dapat apa-apa.’. ‘Yang penting kan nilai saya bagus, Mbak" Aduh mosok dia ini nggak ngerti: nilai bagus itu akan lebih bernilai jika ia melalui proses belajar, kan dan pasti you deserve it. Kalau ketikan di ijazah AAA tapi lo tetap oon, kasihan deh lo..   

Berburu Cerita

Friday, August 5th, 2005

Bd19699_Bagi cerita lagi ya. Waktu masih kecil mungkin orang punya cita-cita yang berbeda-beda. Beda kesempatan, beda keinginan. Entah karena dipenuhi fantasi masa kecil atau ternyata itu merupakan sign obsesi/ gambaran menjadi apa ketika ia besar. Kalau teman, apa masih ingat waktu kecil kerap menjawab apa waktu ditanya soal cita-cita?

Mungkin karena dulu pernah bercita-cita jadi dokter sekarang saya concern soal gizi dan kesehatan, pramugari, lalu ikut marching band juga waktu SMA bagian horn line karena ingin jadi majorette, perawat, dan suster (Eng.=nun).

New_image_1Tapi saya nggak pernah mengira ketika mulai remaja, saya sangat tertarik dengan dunia jurnalistik. Tapi saat itu saya masih bimbang karena ortu ingin saya cepat menyelesaikan pendidikan lalu langsung kerja. Sampai suatu ketika, kepala sekolah, seorang suster, tanpa saya tahu mengapa ia sangat perhatian pada saya, menganjurkan agar saya masuk akademi sekretaris.

    Di akademi saya juga mencoba masuk jadi reporter media kampus. Tapi nggak lulus test. Sampai saat ini saya masih mengejar kompetensi saya di bidang jurnalistik.

    Memperoleh teman dekat berjiwa jurnalis, saya jadi terdorong untuk berprestasi di bidang yang sama. Terutama sekali untuk memanfaatkan kursus jurnalistik waktu di akademi. Waktu diadakan lomba buat dummy media komunitas, kelompok saya menang =). Tapi pengetahuan saya tentang jurnalistik masih kurang. Terutama, untuk tools: saya masih kurang bisa berpikir realis tuh.

    Kalau pernah baca buku the Path karangan Laurie Beth Jones, tentang bagaimana kita menemukan misi dan tujuan hidup, dengan kuis yang ada di dalamnya, mungkin mirip2, kita menemukan juga apa misi dan tujuan hidup kita. 

    Suatu ketika seorang teman yang punya indra keenam pernah menulis tentang saya begini, ’seorang Inge memperoleh pemahaman dan concern akan sekitarnya tapi belum banyak yang bisa ia lihat, karena  (dia dapat jawaban sendiri dari saya): malas. 

Tulis dan hubungkan peristiwa-peristiwa, orang-orang dengan media yang ada, tentang dunia di sekitar saya  dengan segala keterbatasan pemahaman dan pandangan saya.

I will Survive!

Tuesday, August 2nd, 2005

Seneng nyanyi I will Survive-nya Gloria Gaynor?

     Siang ini salah satu teman kantor pamitan.  Dia mau pindah kerja di tempat baru.  Aku tanya apa di tempat baru itu ia akhirnya dapat kerja permanent. Dia bilang sama aja sih, kontrak juga. Hari gini, lebih banyak lowongan yang temporary. Nggak mau ah aku bahas tentang fenomena yg ini. Ini salah satu kesulitan kerja di kota besar, dengan begitu banyak penduduk, dan krismon, bla..bla…bla

       Dua hari lalu temen lama telpon, dia mau diajak calon suaminya pindah ke Sumatra. Nggak ada kata lain selain kudu getting married cepat-cepat… (nikah kadang memang suka bikin ‘lega’ suatu masalah ha..ha..) Tapi… dia punya tanggungan anak asuh di rumah yang butuh biaya sekolah dan  mamanya yang sudah tua. Aku bilang ya pikir jangka panjangnya dan pilih salah satu lalu membuat solusi untuk yang lain. Iya, tapi dia masih bingung, tapi dia merasa tenang sudah ngomong sama aku katanya. Bedanya dia, teman sedari TK ini, sama aku adalah dia terlalu peduli sama pikiran orang sedangkan aku terlalu peduli sama pikiran sendiri. Mungkin ini yang malah bikin kita temenan lama =)

 Bob_sadino         Kalau dulu aku sempat belajar jadi pecinta alam, belajar survive di alam, mungkin seru juga makan daun-daunan (belajar survive)…dan cacing =P, nggak bakal kita lakuin di sehari-hari… tapi memang kalau mau hidup orang mesti survive, mulai dari bayi, dia survive dari plasenta ibunya. Percaya kata Bob Sadino yang survive: jualan telor ayam sampai punya Kem Chicks di Kemang. Dia bilang kalau ayam aja dikasih makan, manusia juga. Yang penting usaha…=) Orang hidup ada aja masalahnya…=)