Archive for May, 2005

GIE: Seorang Humanis

Monday, May 30th, 2005

GIE… Kalau orang tertarik untuk nonton filmnya setelah baca bukunya saya tertarik baca bukunya setelah nonton filmnya. Bagi mereka yang pernah baca buku tentang GIE atau baca tulisan yang ditulis GIE, film ini nggak cukup untuk mewakili perjuangan seorang GIE. Untuk generasi sekarang yang mungkin bahkan belum lahir pada masa perjuangan GIE, nggak cukup mudah untuk menginterpretasikan peristiwa yang pernah ada 39 tahun lalu…

Biasanya saya tertarik dengan roman-roman yang dibuat sebagai ciri film Indonesia sekarang yang bisa dibilang seperti film Rano Karno. Tapi saya lebih setuju kata Mira Lesmana bahwa alangkah baiknya jika sesusai kita menonton film kita memperoleh makna atau pesan yang bermanfaat untuk kehidupan nyata kita. Jadi gambar hidup yang dilahirkan dari catatan harian si GIE ini, isinya soal penghayatan hidup berbangsa dan memihak rakyat kecil.   

Buat saya GIE seorang yang humanis. Bukan separatis, tapi seorang Tionghoa yang nasionalis.  Dia mampu berempati dengan orang susah, mau bela fakta yang benar, kejujuran dan keadilan. Hal ini dia paparkan dalam tulisannya yang banyak dikaguni orang pada masa tahun 66 dan sampai sekarang.

Kalau narasi film saya nggak tulis di sini. Akan lebih menarik jika kita baca bukunya lalu boleh  kita share tentang semangat GIE.. ..

 

Romo Heru: Cukup untuk Kerasulan

Sunday, May 29th, 2005

Pastor muda yang menjadi profil kita kali ini, kami temui di sela-sela kesibukannya saat Pekan Suci, tepatnya seusai menyaksikan drama visualisasi Kisah Sengsara pada hari Jumat Agung. Bertempat di ruang tamu Pastoran, kami berbincang-bincang cukup santai, ditemani oleh si Lexy (our cute dog-red), pengunjung setia pastoran. Bayang lingkar-hitam di bawah matanya tidak mengurangi keceriaan yang terpancar. Senyum dikulum selalu menghiasi wajah. Pemalu, tidak banyak ngomong, seperti yang dikatakannya sendiri, adalah ciri khasnya yang utama. Wajahnya bersemu merah bila ada umat yang iseng menggoda atau pun mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang baginya cukup mengusik. Terutama saat ditanya mengenai eks pacar….

Penerimaan Komunitas Blok Q
Kesan pertama tentang Blok Q adalah keramahtamahannya. Karena Romo merasa sangat diterima. Pada setiap kunjungan ke rumah-rumah, beliau diterima umat dengan baik. Namun di samping itu, beliau juga perlu waspada, jangan-jangan ada umat yang tidak senang dengan kehadiran beliau di sini. Namun tentunya yang bisa memindah tugas dirinya hanyalah Pastor Provinsial. Romo Marto (alm), romo Paroki, waktu itu datang sendiri menjemput ke Gambir bersama Pak Berti (Bendahara Paroki) dan Pak Pal (Sekretaris Paroki).

Dinamika Umat Teritorial
Sebagai Moderator Mudika ia melihat ada hal-hal yang perlu dibenahi yaitu soal strukturisasi kepengurusan Mudika. Tentang hirarki di tingkat paroki, ia pikir berjalan dengan cukup baik. Masing-masing lingkungan perlu mengembangkan diri dengan kondisi masing-masing yang unik termasuk dinamika kerelaan umatnya. Pertemuan Lingkungan umumnya jarang dihadiri oleh Mudika. Ini mungkin yang menimbulkan gap antara kalangan orang tua dan Mudika sendiri. Entah pertemuan Lingkungan itu memang eksklusif hanya untuk orang tua, sehingga Mudika enggan datang. Atau sikap dari Mudika sendiri. Padahal idealnya pertemuan Lingkungan itu untuk siapa saja. Misalnya saat Natalan dan Paskah. Bentuk pertemuan lingkungan bisa bervariasi dilihat dari kebutuhannya: Bentuk sharing, sarasehan, renungan, dll. Bagus juga bila bisa mendatangkan figur atau model peran. Yang penting harus ada komunikasi dengan sarana yang jadi kesepakatan antara orang tua dan kaum muda untuk menciptakan kerja sama. Memang baik kalau masing-masing kelompok punya wadah sendiri-sendiri untuk bertemu. Moderator bisa jadi perantara atau penyambung lidah. Tugas Romo Heru di paroki Blok Q adalah antara lain katekis, PA, Mudika dan Legio Maria. Figur favorit adalah Yesus.

Heru Kecil sampai Besar
Pastor Yustinus Eka Heru Murcahyana, SJ, memulai tangis pertamanya sebagai anak manusia pada tanggal 20 Mei 1967. Kehadirannya sebagai putra pertama dari pasangan Agustinus Sadikin (56) dan Chatarina Supriyati (56), diikuti dengan kehadiran Saudara-saudari sekandung lainnya hingga mereka adalah putra-putri berjumlah 4 orang. Empat bersaudara itu adalah Titik Nuryati, Eni Widyandari dan Heri Krismantara. Mereka menghabiskan sebagian besar masa kecil mereka di Gejagan, Sumber Arum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Sejak masih TK hingga kelas II ia bersekolah di SD Kanisius, Jetis, Depok. Kemudian ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD Kanisius, Ngapak I. Lulus dari SMP PL di Kaliduren (sekarang bertempat di kecamatan Moyudan). SMA Seminari Mertoyudan, Sejak kelas 0 sampai kelas 3. Ia melanjutkan Novisiat selama 2 tahun, dan STF Driyarkara selama 4 tahun. Selama kuliah ia mengendarai sepeda dari Unit Frateran (salah satu dari 6 unit frateran SJ yang ada di Jakarta yaitu, Salemba Bluntas, Kramat 6, Kramat 7, Pulo Nangka-sekarang ISJ, Kampung Ambon dan Rawasari). Bertanggung jawab sebagai Sub Pamong selama masa 2 tahun, Tahun Orientasi Kerasulan, ia berperan sebagai pendamping angkatan, dan membantu pamong. Sebagai sub pamong, ia harus menerapkan disiplin atau tata tertib komunitas Seminaris, dengan memotivasi, membina dan menegur. (Suatu penugasan ini dapat diusulkan secara pribadi kepada Romo Provinsial untuk dipertimbangkan). Studi Teologi selama 3 tahun dapat ia selesaikan di Universitas Kepausan Gregoriana di Roma. Tahbisan didapatkan pada tanggal 30 Juli 1997, lalu langsung ditugaskan sebagai pamong untuk kelas III di Seminari Mertoyudan selama 23 bulan, sampai kemudian ditugaskan pada tanggal 4 Agustus di Paroki Blok Q.

Bermain, Belajar dan Berdoa
Dilatih untuk selalu ramah dan bertegur sapa, pada masa kecilnya ia cenderung lebih sering bermain dengan teman-teman yang lebih tua yang rumahnya lebih dekat atau satu kampung. Bicara dengan orang lain haruslah yang baik dan tidak urakan. Sepakbola Plastik bekas dan ngumbul, adalah jenis permainan favorit Heru kecil dan kawan-kawan. Sesekali mereka nonton ketoprak. Jika ingin belajar bersama Heru kecil harus mengunjungi temannya di kampung lain dengan berjalan kaki kurang lebih 1/2 kilometer (300 meter). Jam belajarnya adalah dari Pk. 18.00 sampai 21.30. Setiap malam Minggu ia bersama teman-teman satu kampung berangkat ke sembahyangan Lingkungan. Kadang-kadang dengan teman-teman satu kampung janjian untuk sama-sama mengenakan sarung misalnya, agar jelas kelihatan asyik dan kompak tentunya. Di lingkungan mencakup 3 kampung di daerah pinggir Selatan. Ketua Lingkungan berdomisili di Kampung yang mayoritas 90 % penduduknya beragama Katholik.

Takut Ular Weling
Setiap malam Heru kecil selalu membawa senter dan ia takut sekali jika bertemu dengan ular weling di jalan tanah, karena konon kabarnya ada yang pernah melihatnya. Pohon-pohon bambu yang menghiasi kanan-kiri jalan setapak, kabarnya disukai oleh bangsa ular.

Bekerja dan Bertanggung jawab
Dilatih agar rajin, bertanggung jawab dan disiplin, sejak kelas 3 SD setiap pagi Heru kecil berkewajiban untuk mengisi bak, menyapu dan mengepel lantai atau halaman rumah dan pada sore hari menyalakan lampu teplok atau petromax. Kadang-kadang Bapak mengajak ke sawah untuk merapikan pematang. Masing-masing putra atau putri di rumah telah mempunyai tugas. Setiap siang hari mereka makan bersama, dengan doa yang dipimpin oleh Bapak. Beruntung sekali karena Bapak dan Ibu bekerja sebagai guru, sehingga dapat sering berkumpul bersama keluarga. Ibu bekerja sebagai guru Agama di SMP Godean, Yogyakarta. Berangkat dengan mengendarai motor. Sedangkan Bapak bekerja di SD Kanisius, Ngapak I, lalu pindah ke Gamping. Berangkat bekerja juga dengan mengendarai motor. Kenangan bersama Ibu adalah waktu jatuh dari gendongan. Sang Ibu takut terjadi sesuatu pada Heru kecil.

Jatuh Cinta pada Figur Pastor
Ketertarikan dengan agama Katholik secara mendalam dimulai dari seringnya Heru kecil hadir di sembahyangan-sembahyangan lingkungan. Sejak itu ia mulai senang berdoa Rosario sendiri di rumah, membaca buku-buku doa atau lagu pujian. Sejak kelas 3 SD, ia sudah ingin menerima Komuni Pertama, untuk itu ia ikut pengajarannya, namun tampaknya orang tua belum merestui karena dianggapnya masih kecil. Baru pada kelas IV SD ia ikut pelajaran Komuni I dengan mengendarai sepeda Paklik yang saat itu masih tinggal bersama-sama di rumah kuno mereka yang beratap bambu. Heru kecil menerima komuni untuk pertama kali pada kelas V SD. Ia memulai pelayanannya dengan menjadi misdinar pada kelas VI SD.

Menjadi Pastor Karena Tidak Mau Menikah
Ketertarikan dengan panggilan hidup selibat, dimulai dengan rasa senangnya dekat dengan Romo, dapat bersama-sama duduk di Altar, bisa bermain-main bersama-sama. Figur Pastor yang penuh kharisma, baik, ramah, suka menyapa, lain dari yang lain. Lagipula pastor itu sedikit. Pada masa remajanya ia dikenal sebagai pendiam dan pemalu, tidak ada bahan yang perlu untuk diomongkan. Teman tidak banyak dan tidak begitu dekat dengan teman wanita dan tidak mau dijodoh-jodohkan. Mulai kelas III SMP sudah mulai biasa dengan wanita dan masuk Seminari setelah lulus. Jumlah Angkatan Romo dari 92 menjadi 57 setelah 4 tahun. Senang menghafal nama kakak kelas. Berlatih musik yaitu clarinet, orkes dan koor. Hubungan beliau dengan pembimbing: penurut menikmati keteraturan seperti di rumah. Nggak pernah dan nggak minat pacaran karena sudah mempersiapkan jalan untuk menjadi imam. Yang penting membangun cinta universal. Memahami sosok putri sejauh berkenalan dengan mereka dengan adik dan ibu.

Dewasa secara Kristiani
Dewasa secara manusiawi, artinya secara psikologis dan fisik, mandiri, dapat memutuskan dengan tepat, dan dapat dipertanggung jawabkan. Dari kecil sudah diberi kemungkinan untuk mandiri atau diberi ruang. Dewasa secara Kristiani, sebagai murid Kristus, adalah antara Iman dan Kenyataan harmonis; Ibadat dan Hari-hari sesuai. Orang semakin bisa mengampuni, memaafkan, damai, berkorban, dan membela yang lemah. Sedikit orang Katholik yang punya minat mendalami Alkitab. Idealnya keduanya seimbang. Dengan kedewasaan Kristiani bisa membawa orang menjadi dewasa manusiawi. Mengimani Kristus yang benar dengan perwujudan itu mendewasakan. Butuh proses untik membuktikan selama hidup.

Menjadi Yesuit yang Baik
Romo Heru ngin menjadi Imam/ Yesuit yang baik. Artinya taat pada superior, menghayati kaul (taat, miskin, selibat). Kaul terakhir dan merupakan kaul keempat adalah kaul kepada Bapa Suci. Kaul taat artinya siap diutus atau hidup sebagai utusan (pada intinya adalah hidup secara murni) dan bisa bergaul dengan siapa saja tanpa pamrih. Artinya mampu menemukan Tuhan dalam diri setiap orang. Dengan kaul kemiskinan seorang Pastor tidak mengumpulkan kekayaan duniawi sehingga ia bebas tidak tergantung pada orang lain dan bebas berekspresi di bawah ketaatan para pembesar. Ada pun barang yang pernah dimiliki adalah barang yang digunakan sebagai sarana yang mendukung karya atau perutusan. Sebagai Imam Yesuit, ia harus menularkan kharisma latihan rohani berupa jalan rohani atau cita-cita rohani yang mau dijalani. Intinya adalah bersatu dengan Kristus. Kesatuan itu secara kongkrit dinyatakan dengan mengabdi kepada sesama. Dengan semangat melayani dan latihan rohani kita akan ditempatkan sehingga dapat sungguh-sungguh melayani.

Cukup untuk Kerasulan
Pastor yang gemar mendengarkan musik, GPA atau naik gunung, berenang dan jogging ini selalu menikmati tugas apa saja yang dijalaninya sesuai konteks. Ia mengaku tidak mempunyai ambisi pribadi untuk meraih gelar atau sesuatu untuk kepentingan pribadi. Segala sesuatu adalah cukup bila memang cukup untuk kerasulan. Orang yang disukai Romo Heru adalah orang yang mau berdialog secara jujur apa adanya sehingga tidak timbul kesalahpahaman. Entah apa itu juga bisa meredam gosip. Jika perlu agar sesuatu dikomunikasikan. Tidak perlu munafik atau sembunyi-sembunyi.

Chocolat

Thursday, May 26th, 2005

12mchocolat A film to awaken the senses and stimulate the sweet tooth, `Chocolat,’ directed by Lasse Hallstrom and starring Juliette Binoche. is both a sensuous and sensational delight. In the mid ‘50s, as if borne on the winds of fate, a somewhat mysterious woman arrives in a small town in France, with a young daughter, Anouk (Victoire Thivisol) in tow and a special talent that soon has the townsfolk in quite a stir. Binoche is Vianne Rocher, a woman who uses her exotic recipe for chocolate to unlock the repressed sensibilities of the predominately Catholic citizenry, heretofore kept under the rigid and righteous thumb of the Mayor, Comte de Reynaud (Alfred Molina), with no respite or help, even from the town’s young and inexperienced priest, Pere Henri (Hugh O’Conor). And because Vianne has the audacity to open her chocolate shop during Lent, when of course her sumptuous treats are forbidden, she quickly runs afoul of the Mayor and a battle of wills between the two ensues. Her chocolates are irresistible, but the Mayor has tradition and religion on his side, and it puts the free-spirited Vianne– who has something of the gypsy in her– to the test. As a director, Hallstrom has just the right touch that brings out the best this story has to offer, which is to say, quite a bit. It’s an affecting and funny movie that will touch you emotionally as it involves you with the characters; Hallstrom knows what buttons to push and when, and it works splendidly. There’s a touch of mystery surrounding Vianne that underscores the sensitivity of the story, and Hallstrom never allows it to become maudlin, which successfully maintains the integrity of the drama. And there are moments throughout the film that evoke an almost dream-like sense of pacification that draw you in as you indulge in the mouth watering visual pleasures of the chocolate. Be forewarned, though, it’s a tough one for diabetics to watch. What Hallstrom also has going for him in this one is an absolutely exquisite cast, many of whom give Oscar worthy, memorable performances, beginning with the superb Juliette Binoche. There’s an earthy, enigmatic and classic sense of beauty about her that make her presence on screen captivating; she’s simply a joy to behold. Judi Dench (Amande), meanwhile, does a terrific character turn as a mother whose daughter, Caroline (Carrie-Anne Moss), deems her an embarrassment and a bad influence on her son, Luc (Aurelien Parent-Koening), and Lena Olin (Josephine) is outstanding as well, as an unhappy woman who finds hope in Vianne’s undaunted spirit. Three extraordinary performances from gifted actresses that should be recognized with Oscar nominations. And Molina, too, as the narrow minded Comte, gives possibly the best performance of his career, while Johnny Depp (Roux) lends some charm as the leader of a roving community of river people. Rounding out the supporting cast are John Wood (Guillaume), Peter Stormare (Serge) and Leslie Caron (Madame Audel). Possibly the `sweetest’ film of the year, as well as one of the best, `Chocolat’ is a visual and emotional triumph that will warm your heart and make your taste buds salivate, with a story and characters as rich and satisfying as the candy they embrace. It’s a film with a human touch whose images and sensitivity will remain with you long after the screen has gone dark; an uplifting, entertaining movie that proves that the answers to the mysteries of life just may be found in that box of chocolates, after all. I rate this one 10/10.

Berjalan di Atas Air: Bukan sekadar Percaya Diri

Tuesday, May 24th, 2005

Berjalan di atas air itu seperti sulap. Tapi ada orang yang bisa melakukannya, bukan pemain sirkus atau tukang sulap tapi orang yang percaya ia bisa melakukannya. Bisa dibayangkan seberapa kuat kepercayaan itu…

Siapa yang Bisa Melakukannya?
Berjalan di atas air bukan hal yang biasa karena yang lazim dilakukan semua manusia normal adalah berjalan di atas darat. Kalau kita pernah menonton sirkus ada orang berjalan di atas tali, lalau kita bilang “hebat”, “luar biasa”, “jagoan”, dll, apakah kalau kesempatan itu diberikan kepada kita, kita mau melakukannya? “Saya bukan pemain sirkus,” “Itu bukan mata pencarian saya”, “Imbalannya berapa?”, ada banyak alasan kita buat untuk TIDAK melakukannya.

Percaya Diri + Percaya DIA
Tapi mungkinkah suatu saat kita penuh kepercayaan diri ingin meraih keuntungan besar dengan segala kekuatan yg kita punya; tapi kita tetap gagal? Ada yang lupa mungkin, bahwa ada kuasa melebihi diri kita. Dalam hidup ’seseorang’ ada Kehendak-’ku’ dan kehendak-MU…

Kapan Pertama Kali Film Diputar?

Friday, May 20th, 2005

Bicara soal terkenalnya Tenabang (Tanah Abang) di masa lalu, satu catatan penting yang terjadi di sana, adalah pemutaran film, atau dulu dinamakan ‘gambar idoep’, yang pertama kalinya pada 5 Desember 1900. Pemutaran film dokumenter yang menceritakan perjalanan Raja Hertog Hendrik dan Ratu Olanda di Den Haag itu tidak sukses, karena mahalnya harga tiket.

Catatan sejarah itu sebenarnya satu kelebihan tersendiri, terlebih untuk dunia perfilman Indonesia. Mengingat pemutaran film itu hanya lima tahun, setelah dilakukan pertama kalinya di Paris pada 28 Desember 1895. Bahkan lebih dulu dibanding Korea pada 1903, serta Italia pada 1905.

Kepemimpinan Partisipatif seperti Puzzle

Thursday, May 19th, 2005

Soal ‘partisipatif’ pasti nggak jauh dari makanan sehari-hari. Dalam hidup tiap orang ada unsur partisipatifnya. Kalau menurut saya, besarnya partisipasi orang sebanding dengan besar tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Menurut kamu?

Potensi Orang seperti Kepingan Puzzle
Dulu saya pernah bikin simulasi kecil-kecilan, bersama volunteer lainnya di suatu komunitas kategorial, tentang Kepemimpinan Partisipatif: kami gambarkan dengan sebuah puzzle. Setiap kepingan Puzzle itu adalah setiap potensi yang dimiliki orang: bakat, keterampilan, kepandaian, sikap pro-aktif, dll. Lalu orang bekerja dalam kelompok-kelompok.

Membuat Gambar Besar
Setiap orang memiliki jumlah keping puzzle yang sama. Tiap orang hanya boleh MELETAKKAN PUZZLE pada bidang GAMBAR (alas puzzle) yang disediakan dan TIDAK BOLEH MEMINTA keping puzzle temannya. Waktu dibatasi sampai sekian menit (sebagai unsur urgensi/ imajinasi pressure suatu masalah). Ada yang bertugas mengamati jalannya proses: siapa yang pertama meletakkan keping puzzle di atas bidang, dll dan mencatat setiap pelanggaran yang terjadi.

Apa yang terjadi? Beberapa anggota kelompok bersikap SALING MENUNGGU dan bukannya MENGHAFAL bagaimana bentuk dan gambar puzzle yang dimiliki lalu MENCOCOKKAN, dan MELENGKAPI keping-keping temannya yang sudah diletakkan di atas bidang.

Mengapa Harus Kepemimpinan Partisipatif?
Menurut penelitian (ehm, gaya, tapi saya lupa sumbernya dari mana, maaf) dari 100 persen jumlah penduduk di mana saja, ada 70 persen orang yang biasa bersikap sebagai strong>penonton, 20 persen orang yang terheran-heran dan hanya 10 persen orang saja yang pro-aktif.

Tiap orang punya kebutuhan yang kadang sama dengan orang lain. Dalam usaha memenuhi kebutuhannya tersebut timbul benturan-benturan dalam hidup bermasyarakat. Untuk mengatasi benturan tersebut perlu ada rambu/ aturan yang mengikat, artinya dengan kesepakatan bersama dan berlaku untuk semua. Hal diupayakan agar meski sedikit dibatasi kebebasannya, tiap orang dapat memenuhi kebutuhannya. Kalau masing-masing orang nggak punya cita-cita (gambaran besar dari rangkaian keping puzzle), dan mau terlibat mewujudkannya nggak pernah ada si Gambar Besar itu.

Kalau di kehidupan profesional: setiap orang punya job desc., punya imbalan atas jasa/ materi yang diberikan; sudah jelas ada batasan kontribusinya. Tapi kalau dalam hidup sosial, tiap orang punya kebebasan dalam memberikan kontribusinya. Pada saat ini, dibutuhkan kepemimpinan partisipatif dengan tanggung jawab moril….

11 Alasan Wanita Tidak Menikah: Sikap Politik Ayu Utami

Wednesday, May 18th, 2005

Siraman_1

Inilah sebelas alasan kenapa tidak menikah adalah sikap politik saya, dan karenanya saya tidak layak diundang oleh Jeremy Thomas sebagai tamunya dalam Love & Life:

1 Memangnya harus menikah?

2 Tidak merasa perlu

3 Tidak peduli

4 Amat peduli
Jika di satu sisi saya mudah dianggap tidak peduli pada nilai yang dipercaya ibu saya, di sisi lain saya sesungguhnya amat peduli. Awalnya sederhana saja. Sejak kecil saya melihat masyarakat mengagungkan pernikahan. Ironisnya, dongeng Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, Pretty Woman tamat pada upacara, tukar cincin, dentang lonceng, atau ciuman di balkon. Artinya, tidak ada dongeng tentang perkawinan itu sendiri.

Sesungguhnya pada titik dongeng berhenti, seorang anak diperkenalkan pada yang realistis. Yang tidak diceritakan itu. Yaitu, bahwa pernikahan tidak ideal. Selain kasih sayang, juga ada kebosanan, penyelewengan, pemukulan. Tetapi itu tabu dibicarakan. Sebaliknya, masyarakat mereproduksi terus nilai yang mengagungkan pernikahan. Mereka menempatkan jodoh sebagai titik nadir sejajar dengan kelahiran dan kematian.

Suatu proses yang wajib dilalui manusia. Seolah-olah alamiah, bahkan kodrati. Barangkali percintaan memang amat romantis sehingga orang, misalnya saya dan pacar saya kalau lagi jatuh cinta, suka berkhayal bahwa kami dipersatukan oleh malaikat (tentu khayalan ini berakhir bersama selesainya hubungan). Perasaan melambung itu mungkin yang membuat kita ogah mengakui bahwa kita lahir dan mati adalah proses biologis, sementara menikah adalah konstruksi sosial belaka.

Persoalannya, selalu ada yang tidak beres dengan konstruksi sosial. Pada umumnya pernikahan masih melanggengkan dominasi pria atas wanita. Kecuali di beberapa negara liberal Eropa, hukum tidak terlalu berpihak pada istri. Di Indonesia ini terlihat pada setidaknya undang-undang perkawinan, perburuhan, maupun imigrasi. Di masyarakat, begitu banyak pengaduan kasus kekerasan domestik terhadap perempuan. Kita dengar dari media massa tentang pemukulan atas pembantu rumah tangganya Imaniar hingga atas Ayu Azhari oleh suaminya sendiri. Ketimpangan jender harus diakui.

Tapi puncak pengesahan supremasi pria atas wanita adalah dalam poligami. Tema yang hampir-hampir tak pernah dikembangkan, bahkan dalam dongeng 1001 malam. (Menurut saya topik ini digarap dengan amat muram dan mencekam dalam Raise the Red Lentern oleh Zhang Yi Mou). Bahwa seorang lelaki boleh memiliki banyak bini, tapi seorang istri tidak diperkenankan memiliki banyak laki. Padahal, secara biologis perempuanlah yang bisa betul-betul yakin bahwa anak yang dikandungnya adalah anaknya sendiri. Waktu remaja tentu saja saya merasa tidak nyaman membaca berita bahwa Rhoma Irama kawin lagi dengan Rika Rachim, yang lebih muda dan segar daripada Veronica, istri pertamanya yang kemudian minta cerai karena tidak mau dimadu. (Saya menyetujui perselingkuhan, sebab perselingkuhan istri maupun suami sama-sama tidak disahkan hukum).

Saya anti-poligami. Tapi bukannya tidak bisa melihat rasionalisasi di balik kawin ganda ini. Poligami adalah masuk akal di dalam masyarakat yang amat patriarkal, yang berasumsi bahwa pria superior, bahwa pria menyantuni perempuan dan tak mungkin sebaliknya, sehingga tanpa lelaki seorang perempuan tak memiliki pelindung. Para pendukung poligami umumnya gagal untuk mengakui bahwa poligami hanya adil untuk sementara, yaitu dalam konteks masyarakat patriarkal. Dan bahwa kita punya pekerjaan besar untuk mengubah sistem yang cenderung berpihak pada pria itu. Makanya, saya kecewa ketika dalam periode Gus Dur, Menteri Pemberdayaan Perempuan tidak menentang pencabutan PP 10 yang melarang pegawai negeri beristri banyak. (Dalam hal ini saya lebih suka Soeharto daripada Hamzah Haz.)

Lantas, apa hubungan semua perkara besar itu dengan saya? Hubungannya adalah bahwa saya peduli, yaitu jengkel dengan idealisasi tadi. Barangkali saya ingin mengatakan bahwa ada persoalan di balik pengagungan atas pernikahan. Pernikahan tidak dengan sendirinya membuat hidup Anda sempurna atau bahagia. Saya ingin mengingatkan, ada jalan alternatif. Perempuan tak perlu menjadi istri kesekian atau kawin dengan lelaki bertelapak tangan ringan hanya demi jadi Nyonya Fulan.

Catatan: Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Juga memperingatkan para suami bahwa istri bisa tak bergantung pada dia. Dengan demikian, mestinya harga istri menjadi lebih mahal sehingga harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya. (Nah, saya peduli dan berniat baik, kan?)

5 Trauma
Saya punya trauma. Bukan pada lelaki, sebagaimana diperkirakan banyak orang, misalnya seorang ibu pendakwah di televisi. Melainkan pada sesama perempuan yang tidak sadar bahwa mereka tunduk dan melanggengkan nilai-nilai patriarki.

Saya punya dua bibi pemuja perkawinan. Salah satunya begitu mengagungkan persuntingan sehingga jika saya menikah, ia takkan menyapa saya dalam suratnya sebagai Ayu, melainkan sebagai Nyonya Anu. Tapi mereka sendiri tidak menikah. Bukan tak mau, melainkan karena tak dapat suami. Mereka juga pencemburu pada perempuan lain yang bukan sedarah dalam keluarga kami. Mereka cenderung menganggap anak laki-laki lebih berharga ketimbang anak perempuan. Syukurlah bahwa ayah-ibu saya memperlakukan sama putra-putrinya, sehingga saya tidak punya dendam, sembari tetap melihat ketidakadilan.

Saya juga punya guru-guru di SD dan SMP yang memenuhi segala stereotipe tentang perawan tua, perempuan “tidak laku” yang dengki. Mereka mengidealkan perkawinan. Mereka tidak mendapat suami. Mereka adalah guru-guru paling killer di sekolah. Mereka menghukum dengan berlebihan. Mereka membenci murid-murid yang cantik, setidaknya begitu mudah berang pada wajah ayu. Syukurlah, saya tidak ayu dan cenderung tomboy sehingga mereka baik pada saya. Dengan demikian, saya punya simpati baik pada si guru maupun pada korbannya, teman saya yang cantik. Sembari tetap merasakan ketidakadilan.

Pada masa kanak dan remaja, kesejajaran antara “perawan tua” dengan tabiat pendengki tampak begitu nyata, sehidup kakak tiri Cinderella. Untuk mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak saling berkaitan adalah naif. Lagipula, demikianlah stereotipe yang dilanggengkan masyarakat. Tapi, untuk mempercayai bahwa perempuan yang tidak kawin niscaya mempunyai problem psikologis juga terlalu menyederhanakan persoalan.

Inilah trauma saya: bahwa saya melihat sindrom perawan tua. Sejak remaja saya merasa terganggu olehnya. Bertahun lalu saya menulis dalam diary, “Barangkali saya tidak akan menikah kelak, tetapi saya tidak akan menjadi pencemburu.” Mungkin inilah jalan yang saya pilih: masuk ke dalam trauma itu dan membalikkannya. Masuk ke dalam prasangka masyarakat dan membuktikan kesalahannya.

Bibi saya, guru saya, adalah orang yang terluka. Mereka (wanita) dilukai oleh masyarakat yang hanya menganggap sempurna wanita berkeluarga dan menganggap tak laku perempuan lajang tua. Dan luka itu adalah milih setiap perempuan. Saya ingin mengorek luka itu, luka saya juga, dan menunjukkan bahwa ini hanya konstruksi sosial, sehingga kita tak perlu menjadi sakit karenanya. Tapi alasan ini kok terlalu heroik ya? Nah alasan berikutnya adalah:

6 Tidak berbakat
Rasanya, saya tidak berbakat untuk segala yang formal dan institusional. Contohnya, sejak SMP saya tidak pernah menjadi murid yang baik.

7 Kepadatan penduduk
Saya tidak ingin menambah pertumbuhan penduduk dengan membelah diri.

8 Seks tidak identik dengan perkawinan
Wah, pertama ini konsekuensi alasan ke-5 tadi: saya kan harus membuktikan bahwa perawan tua dan tak menikah tidak berhubungan. Kedua, siapa bilang orang menikah tidak berhubungan seks dengan bukan pasangannya.

9 Sudah terlanjur asyik melajang.

10 Tidak mudah percaya
Ibu saya selalu mengatakan bahwa menikah membuat kita tidak kesepian di hari tua. Tapi siapa yang bisa jamin bahwa pasangan tak akan bosan dan anak tidak akan pergi? Tak ada yang abadi di dunia ini, jadi sama saja.

+1
Dan kenapa saya menceritakan semua itu? Sebab selalu ditanya. Inilah anehnya kesadaran. Ketika kita menjalani hidup, sebetulnya semua mengalir begitu saja. Tetapi ketika kita ditanya, kita seperti dipaksa untuk menyadari dan merumuskan. Lantas, sesuatu yang semula terasa wajar menjelma sikap politik….

Pernikahan Kata Orang Jawa

Tuesday, May 17th, 2005

Pelaminan2

"Gegaraning wong akrami, dudu brana dudu warna, amung ati pawitane. Luput pisan kena pisan. Yen gampang luwih gampang. Yen angel, angel kelangkung, tankena tinumbas arta."

Pegangan orang berumah tangga, bukan harta dan penampilan, hanya kemantapan hati modalnya, jodoh digariskan sekali seumur hidup. Bila telah ditakdirkan, semua akan mudah dan lancar, namun bila belum ditakdirkan sangat sulit terlaksana, bahkan tak terbeli dengan harta.

Yang mana jodohku? Feelingku, intuisiku, harumku, atau miripku? Apa mimpi kita sama? Apa warna kesukaan kita sama? Apa jiwa kita satu? 

"Turuta atut aruntut, karongron saari ratri, yayah mimi lan mintuna, nadyan tekan ing don adi, away doh dunungangira, awibawa in swargadi."

Semoga selalu dalam keadaan rukun, siang-malam selalu berdua bagaikan mimi dan mintuna, sampai pun kelak di alam abadi, jangan sampai jauh tempatmu dalam kehidupan sejahtera di sorgaloka.

Siapa yang bisa kasih aku tiket ke surga?

Monalisa Smile

Monday, May 16th, 2005

28mmonalisasmile

Kritis dan Agresif
Mimpi Katherine Watson (Julia Robert) jadi guru Sejarah Seni tahun pertama di sekolah putri Wellesley College, jadi kenyataan. Sekolah ini jadi luar biasa, justru karena adanya murid-murid putri yang sangat kritis dan agresif. Awalnya dia mendapat tantangan untuk mampu memberi ‘lebih’ dari referensi yang dia berikan di silabus.

Seeking Truth beyond the Image
Miss Watson pun mengajak murid2 putrinya untuk berpikir di luar textbook karena itu ia sempat dipuji-puji sebagai ‘forward thinker’. Sementara itu, sempat juga ia khawatir akan posisinya; ketika seorang ’school nurse’ memberikan kontrasepsi pada seorang murid, dan hal ini diberitakan dalam media mahasiswa. Pimpinan Sekolah menolak ada ‘kebocoran norma susila’, dan terutama atas wewenang Dewan Alumni yang tradisional-konservatif dan berkuasa, kolega Watson ini dikeluarkan.

Seeking Truth beyond the Tradition
Miss Watson begitu keras pada aturan akademis, dan tidak memahami tradisi sekolah bagi ‘married student’. Ia semakin merasa tidak nyaman ketika para murid mengusik kehidupan pribadi terutama kisah cintanya. Perspektif barunya bahwa wanita yang sudah menikah pun dapat melanjutkan sekolah dan berkarir: dianggap aneh.

She Lived for Own Definition
Watson sangat antusias ketika Joan, muridnya mengungkapkan keinginan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Tapi ternyata kemudian Joan memilih untuk menikah saja, tidak melakukan keduanya: karir dan keluarga. Menjadi seorang wanita yang menikah bukanlah berarti ‘less intelect’ menurut Joan, tidak seperti pandangan Watson.

Monalisa Smile
Akhirnya Katherine Watson mengundurkan diri dan mencari sekolah lain. Karena kemudian ia amat dibatasi oleh birokrasi sekolah dalam membuat kurikulum pengajarannya. Seperti saat ia mengajarkan sejarah seni, seperti saat ‘Monalisa’ tersenyum, siapa yang bisa memastikan apakah ia bahagia? “Not everything is as it seems…” (cuma ‘Monalisa’ sendiri yang paling tahu-red). “Just live with example and see world through new eyes” kata Katherine Watson.

Entertaining Angels: the Dorothy Day Story

Friday, May 13th, 2005

10mdorothyday

"I want to live fully" begitu kata Dorothy Day. Film yang berangkat dari kisah nyata ini memberikan banyak inspirasi pada saya. Bahwa untuk hidup penuh, tidak harus memiliki segalanya, tapi justru dengan berbagi segalanya. Seperti kata Mike, seorang gelandangan yang bijak (menurut saya-red) ketika makan malam bersama Day dan Tamar(anak Day): “Ambillah seperlunya…”

Seorang Dorothy Day
Film ini menceritakan perjuangan hidup seorang wanita yang cerdas, idealis dan pandai mengkomunikasikan pemikiran-pemikirannya atas kepedulian terhadap masyarakat kecil lewat tulisannya sebagai jurnalis.

Hidup Lebih Berarti
Ia atheis lalu dalam perjuangannya mengatasi persoalan pribadi, terutama perbedaan iman dengan suaminya, dia menemukan hidup yang lebih bermakna. Hal ini dia temukan ketika terinspirasi akan pengabdian seorang biarawati terhadap orang-orang miskin yang dia temui tanpa sengaja. Dia membantu para tunawisma agar tetap bertahan hidup, walau sesekali ia gagal. Ia juga mengalami konflik dengan pejabat Gereja.

‘Amazing Grace’ yang Day Alami
Dia bukan wanita sempurna, kadang dia bersikap angkuh dan kadang dia rapuh. Dalam kerabat kerjanya dia juga mendapat tantangan. Di akhir Film, sebagai Day yang akhirnya menghabiskan sisa hidupnya di penjara, Moira Kelly menyanyikan “Amazing Grace” dengan amat merdunya

Links: http://www.cyberhymnal.org/htm/a/m/amazgrac.htm and http://www.imdb.com/title/tt0116212/.